ARTICLE AD BOX
Menurut Kedutaan Besar Myanmar di Jepang melalui laman Facebook resminya pada Rabu (2/4), selain korban jiwa, gempa ini juga mengakibatkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal serta mengalami kesulitan mendapatkan makanan dan air bersih. Sementara itu, di Thailand, sekurangnya 15 orang dilaporkan tewas dan 72 lainnya masih hilang setelah sebuah gedung pencakar langit yang masih dalam tahap konstruksi di Bangkok roboh akibat dampak gempa.
Gempa dahsyat ini berpusat di wilayah Sagaing, Myanmar, yang dihuni sekitar 28 juta jiwa. Selain gempa utama, tercatat hingga 66 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 2,8 hingga 7,5 yang semakin memperburuk kondisi di negara yang tengah dilanda konflik internal ini.
Tak Ada WNI Jadi Korban
Pemerintah Indonesia memastikan tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam bencana tersebut. Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan hal ini saat melepas bantuan kemanusiaan tahap ketiga di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/4).
"Berdasarkan pemantauan dan laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Myanmar, sejauh ini belum ada laporan WNI yang menjadi korban. Kita berharap seluruh WNI yang ada di sana dalam kondisi baik," ujar Sugiono.
Namun, ia juga menegaskan bahwa jika nantinya ditemukan korban dari kalangan WNI, pemerintah akan segera mengambil langkah evakuasi dan pemulangan ke Tanah Air. "Kita semua berharap warga negara kita di sana sehat dan baik-baik saja. Jika ada yang menjadi korban, tentu kita akan segera menyesuaikan dan memulangkan mereka," tambahnya.
Sebagai bentuk solidaritas, pemerintah Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan dengan total berat 124 ton senilai sekitar 1,2 juta dolar AS atau setara Rp20,89 miliar. Bantuan tersebut mencakup tenda darurat, alat kesehatan, dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan di Myanmar.
Pengiriman bantuan ini merupakan hasil koordinasi antara Kementerian Luar Negeri dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), serta kerja sama dengan negara-negara ASEAN dalam upaya tanggap darurat terhadap bencana ini.
Sementara itu, untuk memperlancar upaya penyelamatan, junta militer Myanmar telah menyatakan gencatan senjata selama tiga pekan, yakni hingga 22 April, guna memberikan ruang bagi tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan. Pernyataan ini muncul setelah aliansi oposisi utama Myanmar lebih dulu mengumumkan seruan gencatan senjata pada Selasa (1/4) guna mendukung operasi kemanusiaan.
Dengan prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi hujan di luar musim mulai 11 April, tantangan bagi tim penyelamat dan distribusi bantuan diprediksi akan semakin berat di wilayah terdampak. *ant